Showing posts with label Lukisan Maestro Luar. Show all posts
Showing posts with label Lukisan Maestro Luar. Show all posts
Saturday, July 30, 2011
Art Gallery
0 comment
>> LUKISAN DAN BIOGRAFI WALTER SPIES
Walter Spies, lahir di Moskwa 15 September 1895 – meninggal di Samudera Hindia, 19 Januari 1942 pada umur 46 tahun, ia merupakan pelukis, perupa, dan juga pemusik. Ia adalah tokoh di belakang modernisasi seni di Jawa dan Bali.
Walter Spies lahir sebagai anak seorang peniaga kaya Jerman yang telah lama menetap di Moskwa. Semenjak muda ia telah menggemari seni musik, seni lukis, dan seni rupa. Ia mengenal Rachmaninov dan mengagumi Paul Gauguin seorang pelukis terkenal Dunia.
Selepas Perang Dunia I, Walter Spies sempat tinggal beberapa lama di Berlin - Jerman dan berteman dengan sutradara ternama masa itu, Friedrich Murnau. Kelak, Murnau-lah yang banyak membantu Walter Spies secara finansial di perantauan. Di Jerman ia sudah cukup ternama karena lukisan-lukisannya, namun ia merasa tidak kerasan karena sebagai homoseksual ia selalu dicari-cari polisi.
Pada tahun 1923 ia datang ke Jawa dan menetap pertama kali di Yogyakarta. Dia dipekerjakan oleh sultan Yogya sebagai pianis istana dan diminta membantu kegiatan seni keraton. Walter Spies lah yang pertama kali memperkenalkan notasi angka bagi gamelan di keraton Yogyakarta. Notasi ini kemudian dikembangkan di kraton-kraton lain dan digunakan hingga sekarang.
Setelah kontraknya selesai, ia lalu pindah ke Ubud, Bali, pada tahun 1927. Di sinilah ia menemukan tempat impiannya dan menetap hingga menjelang kematiannya. Di bawah perlindungan raja Ubud masa itu, Cokorda Gede Agung Sukawati, Walter Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan apa yang dikenal sebagai gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak.
Sering kali dikatakan bahwa ia adalah orang yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Ia memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang ternama di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali untuk melihat sendiri pulau kebanggaannya itu. Di bulan Desember 1938 Spies sempat dipenjara karena dituduh homoseksual. Ia baru dibebaskan karena bantuan beberapa temannya, di antaranya Margaret Mead, pada September 1939.
Perang Dunia Kedua membawanya pada nasib buruk. Sebagai orang Jerman, ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Ia meninggal 19 Januari 1942 karena tenggelam bersama-sama dengan kapal 'Van Imhoff' yang ditumpanginya. Kapal dengan 477 tawanan dan 110 awak kapal itu tidak mempunyai ciri-ciri yang khas yang menandai bahwa kapal itu kapal yang membawa tahanan perang, sehingga diserang oleh armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di perairan barat Sumatera Utara. Kapal yang seharusnya berlayar ke Srilanka itu mengangkut orang-orang Jerman yang diusir dari Hindia Belanda akibat serangan Jerman ke Belanda.
>> LUKISAN DAN BIOGRAFI LE MAYEUR
Salah satu pelukis asing terkenal, yang pernah menetap dan tinggal di pulau Bali, nama lengkap Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres lahir di Brusel - Belgia, pada 9 Februari 1880, meninggal di Ixelles 31 Mei 1958 pada umur 78 tahun, dia adalah seorang pelukis dari Belgia, tiba di Singaraja - Bali dengan perahu pada tahun 1932, kemudian menetap di Denpasar.
Le Mayeur menyewa sebuah rumah di banjar Kelandis - Denpasar, tempatnya berkenalan dengan penari legong Ni Nyoman Pollok yang berusia 15 tahun, yang kemudian menjadi model lukisannya.
Sejumlah karya Le Mayeur yang menggunakan Ni Pollok sebagai model dipamerkan di Singapura untuk pertama kalinya pada tahun 1933, yang kemudian sukses dan iapun terkenal. Kembali dari Singapore, Le Mayeur membeli sepetak tanah di Pantai Sanur dan membangun rumah. Di rumah yang menjadi studio ini, Ni Pollok bekerja tiap hari sebagai model bersama 2 sahabatnya. Kecantikan dan kepribadian Ni Pollok telah memikat hati Le Mayeur. Awalnya, ia hanya akan tinggal selama 8 bulan, namun kemudian ia memutuskan untuk tinggal di pulau itu sampai akhir hayatnya.
Setelah 3 tahun bekerja bersama, pada tahun 1935, Le Mayeur dan Ni Pollok menikah. Sepanjang kehidupan pernikahannya, Le Mayeur tetap melukis dengan menggunakan istrinya sebagai model.
Pada tahun 1956, Bp. Bahder Djohan, Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia saat itu mengunjungi Le Mayeur dan Ni Pollok di rumahnya. Bahder begitu terpesona dengan karya pelukis itu dan kemudian mengusulkan kepada pasangan itu untuk melestarikan rumah mereka dan seisinya sebagai museum. Le Mayeur menyetujui gagasan itu dan sejak itu ia bekerja lebih keras untuk menambah banyak koleksi rumah itu dan menambah kualitas karyanya juga.
Akhirnya, impian Le Mayeur menjadi kenyataan ketika pada tanggal 28 Agustus 1957, sebuah dokumen ditandatangani, yang isinya adalah bahwa Le Mayeur mewariskan semua miliknya termasuk tanah, rumah, dan seisinya kepada Ni Pollok sebagai hadiah. Di saat yang sama, Ni Pollok kemudian memindahkan semua yang diwarisi dari suaminya kepada Pemerintah Indonesia untuk digunakan sebagai museum.
Pada tahun 1958, Le Mayeur menderita kanker telinga parah, dan ditemani oleh Ni Pollok ia kembali ke Belgia untuk menerima perawatan medis. Setelah 2 bulan di sana, akhirnya Le Mayeur meninggal dunia dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di Ixelles/Elsene, Brusel. Ni Pollok kemudian pulang kampung untuk merawat rumahnya yang menjadi museum hingga kematiannya pada tanggal 18 Juli 1985 dalam usia 68 tahun.
"Kenikmatan hidup I" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 151cm x 200cm
*) Koleksi Bung Karno
"Kenikmatan Hidup II" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 150cm x 200cm
*) Koleksi Bung Karno
"Bermain di kolam" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 150,5cm x 200cm
*) Koleksi Bung Karno
"Around the Lotus Pond" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 101cm x 120.5 cm, Year: 1950s
*) Auction: Christie's Hongkong
"Balinese Girls Gathering Flowers" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 55.5cm x 65.2 cm
*) Auction: Christie's Hongkong
"La Pergola (The Arbour)" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, 90cm x 120 cm
*) Auction: Christie's Hongkong
"Temple feast" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 45cm x 55.5 cm
*) Auction: Christie's Hongkong
"Temple Festival in Bali" by Le Mayeur , Medium: oil on canvas
*) Auction: Christie's Hongkong
"Three Dancers in the Garden" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 100cm x 120.5 cm
*) Auction: Christie's Hongkong
"Balinese ladies in a garden" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 55cm x 65cm, Year: 1957 - 1958
"La Langouste (The lobster)" by Le Mayeur, Medium: oil on canvas, Size: 90cm x 120cm
>> LUKISAN DAN BIOGRAFI W.G. HOFKER
Willem Gerard Hofker lahir di Den Haag - Belanda pada tanggal 2 Mei 1902, dan meninggal dunia di Amsterdam 30 April 1981. Dia anak dari Gerrit Jan Hofker, pegawai negeri di Pos dan Telkom. Selama beberapa waktu ayah beliau menjadi teman sekerja De Nieuwe Gids dan berteman dengan anggota-anggota Beweging der Tachtigers (Gerakan Delapan puluhan). Beliau memberi nama anaknya dari Willem Witsen.
Willem Hofker awalnya study di Haagse Academie dan kemudian pada usia 14 Tahun, melanjutkan di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten di Amsterdam. Beliau juga dididik oleh Willem Witsen dan Isaac Israel, yang bersahabat baik dengan ayahnya, yang jadi artis amatir dan penulis, anggota yang berkaitan dengan gerakan 'de Beweging van Tachtig'. Tahun 1927 Willem Hofker menang hadiah kedua di Prix de Rome. Tahun 1930 beliau menikahi Maria Rueter, ahli pelukis juga, anak perempuan Georg Rueter, pelukis dan dosen kepala di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten di Amsterdam.
Pada tahun 1920-an, Hofker telah menyelesaikan beberapa pekerjaan monumental-dekoratif, antara lain untuk Koninklijke Nederlandsche Stoomvaart Maatschappij (KNSM), dimana beliau membuat beberapa lukisan dinding untuk kapal-kapal. Dari karya itu hampir tidak ada ketinggalan. Reputasi Hofker sebagai pelukis potret, menerima pesanan tahun 1936 melukis potret ratu Wilhelmina dari Belanda, untuk kantor pusat Koninklijke Pakketvaart Maatschappij (KPM) di Batavia, sekarang Jakarta.
Tahun 1938 suami isteri melakukan perjalanan ke hindia dan teruskan dengan perjalanan diseluruh jajahan Belanda. Pada waktu perjalanan itu mereka membuat gambar-gambar dan lukisan wilayah Indonesia yang memungkinkan direproduksi dan dipakai oleh KPM.
Suami isteri Hofker menetap di Bali, dimana Willem membuat gambar-gambar pemandangan dan penari Bali. Hofker bergaul dengan banyak pelukis, antara lain Walter Spies, Strasser, Le Mayeur dan sahabat baik mereka, Rudolf Bonnet. Tahun 1940 suami isteri pindah ke Ubud. Kebanyakan karya Hofker di Indonesia dibuat dalam periode antara Tahun 1938 - 1944. Karya seni beliau adalah bergaya halus, mengalir, dan juga puitis. Di Bali sebagian besar lukisan beliau bertema kuil dan kehidupan agama di pulau Bali, dan orang-orang Bali.
Waktu Perang Dunia II Hofker dengan temannya Bonnet, dipaksa ikut serta dengan KNIL di Surabaya, kemudian suami dan isteri di internir oleh tentara Jepang di kemah masing-masing pada tahun 1943, Willem sendiri di Tana Toraja, Sulawesi Tengah. Pada zaman ini kebanyakan sketsa Maria Hofker jadi hilang. Pada akhir masa perang, pasangan suami isteri tidak mau ikut serta gerakan Nasionalis Indonesia dan kembali ke Belanda.
Kembali ke Belanda tahun 1946, masa sulit untuk pasangan Hofker ini. Suasana perkembangan seni pada itu telah merubah seluruhnya. Karya figuratif Willem hampir tidak dapat penghargaan dari teman-temanya. Meskipun, pada akhirnya pesanan portret mulai meningkat cepat. Jumlah seluruhnya, Willem Hofker melukis kira-kira 800 potret untuk individu dan organisasi-organisasi, antara lain universitas dan perbankan. Termasuk, pada tahun 1970, potret Herman van den Wall Bake, presdir Algemene Bank Nederland (ABN). Willem Hofker juga ahli dalam melukis pemandangan kota Amsterdam dengan media crayon, dimana beliau fokus pada arsitektur, potret rumah-rumah dan kota-kota. Gambar-gambar Amsterdam ini dikumpulkan dalam tiga buku. Koleksi karya Bali terbit dengan judul 'Bali as seen by Willem Hofker' (1978). Di Belanda Willem Hofker masih melukis dengan tema orang-orang dan pemandangan Bali, dengan media kertas dan canvas.
Selama bagain akhir masa hidupnya, Willem Hofker memberikan banyak andil dalam perkembangan dunia seni lukisan, dengan publikasi karya-karya lukisanya, reputasi beliau meningkat. Saat ini karya pemandangan dan penari Bali beliau sangat dicari. Dan juga secara internasional, karya-karya pada masa Hofker menetap di Bali, menarik banyak perhatian didalam tahun-tahun terakhir masa hidupnya. Willem Hofker berdiam di Zomerdijkstraat, Amsterdam dari 1934 - 1938 dan dari 1946 - 1967.
"Membakti, konte dan pastel diatas kertas" by W.G Hofker, Size: 52cm x 29,5cm
*) Koleksi Bung Karno
"Ni cawan,penari legong" by W.G Hofker, Medium: konte and pastel on paper, Size: 47,5cm x 32cm
*) Koleksi Bung Karno
"Gadis-gadis Bali dalam pesta pura" by W.G. Hofker, Medium: Oil on canvas, Size: 90cm x 61cm
*) Koleksi Bung Karno
"Gadis Bali pada upacara melis" by W.G.Hofker, Medium: oil on canvas, Size: 71,5cm x 50,5cm, Year: 1940
*) Koleksi Bung Karno
"Gusti Kompyang dalam pesta pura" by W.G.Hofker, Medium: oil on canvas, Size: 101cm x 74cm, Year: 1941
*) Koleksi Bung Karno
"A view of a courtyard in Veere with the Town Hall beyond" by W.G.Hofker, Medium: oil on canvas, Size: 50.5cm x 38 cm
*) Auction: Christe's Hongkong
"Ina Levina" by W.G.Hofker, Size: 45cm x 50cm, Medium: Oil on canvas, Year: 1960
*) Auction: Masterpiece
"Miralda Canonica" by W.G.Hofker, Size: 42cm x 29cm, Medium: Mixed media on paper, Year: 1952
*) Auction: Masterpiece
"Nude" by W.G.Hofker, Size: 15cm x 19cm, Medium: Crayon on paper, Year: 1950
*) Auction: Masterpiece
>> LUKISAN DAN BIOGRAFI RUDOLF BONNET
Johan Rudolf Bonnet lahir di Amsterdam - Belanda pada 30 Maret 1895 – meninggal di Laren - Belanda pada18 April 1978 pada umur 83 tahun, ia adalah seorang pelukis berkebangsaan Belanda yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ubud - Bali sebagai seorang pelukis. Dia adalah salah seorang dari banyak pelukis asing yang berkontribusi pada kemajuan seni lukis di Indonesia, khususnya di Bali.
Rudolf Bonnet lahir dari keluarga Huguenot Belanda yang selama banyak generasi telah menjadi pembuat kue / roti di Amsterdam. Bonnet berjuang keras untuk dapat keluar dari gaya hidup borjuisnya untuk menjadi seorang seniman lukis.
Ketertarikan Bonnet untuk hidup sebagai seniman membawanya ke Italia pada tahun 1920, di mana dia mendapat banyak pengaruh dari lukisan-lukisan renaisans. Dia menetap selama delapan tahun di desa Anticoli Corrado di sebelah Selatan kota Roma. Di Italia Bonnet bertemu dengan W.O.J. Nieuwenkamp, seorang seniman Belanda yang telah berkeliling di Hindia-Belanda dan kemudian menetap di sebuah villa di dekat kota Firenze. Nieuwenkamp-lah yang meyakinkan Bonnet untuk pergi ke Bali.
Bonnet sempat menjalani dua tahun sekolah di sekolah teknik Hendrick de Keyser di Amsterdam. Tahun 1913 dia mengikuti Ujian Nasional untuk sekolah seni rupa terapan negeri dan tahun 1916 dia lulus dari sekolah tersebut. Dia juga menjalani pendidikan formal di sekolah Rijksacademie van Beeldende Kunsten (Akademi Seni Adiluhung Belanda) di Amsterdam dan kursus dekorasi harian di Haarlem.
Rudolf Bonnet datang ke Hindia-Belanda (sebutan untuk Republik Indonesia pada zaman kolonial Belanda) pada tahun 1928 bersama kedua orangtuanya untuk mengunjungi saudara laki-laki dan perempuannya. Dia tiba di Batavia, Hindia-Belanda dia atas kapal S.S. 'Jan Pieterszoon Coen'. Dia sempat tinggal di kota Semarang, namun bujukan dan foto-foto yang ditunjukkan oleh Nieuwenkamp di Italia mendorong rasa ketertarikannya untuk pergi ke kepulauan di sebelah Timur Jawa.
Pada tahun 1920-an memang banyak seniman dari Eropa yang pergi ke Bali untuk melukis di sana karena keunikan budaya Bali. Bonnet berdasar rasa ketertarikannya juga menganjurkan banyak seniman lain untuk pergi ke Bali. Setelah sempat berkunjung ke Pulau Nias, Bonnet tiba di Bali pada bulan Januari 1929, di mana dia kemudian tinggal dan mulai menggambar dan melukis.
Bonnet segera menyukai tari-tarian, budaya arak-arakan dan upacara adat di Bali sehingga memutuskan untuk menetap di sana. Setelah dua bulan tinggal di Tampaksiring, dia pindah ke Peliatan di sebuah paviliun yang disewanya dari seorang punggawa (kepala desa) di Peliatan. Oleh punggawa tersebut dia diperkenalkan dengan orang-orang yang terkenal saat itu di sana, antara lain pelukis Jerman Walter Spies, serta pangeran kerajaan Ubud Tjokorda Gede Raka Soekawati dan Tjokorda Gede Agoeng Soekawati (raja Ubud pada masa 1931-1950, meninggal tahun 1978) . Mereka menjadi sahabat dekat, dan saat Spies pindah ke rumah baru di Campuhan, Bonnet menggunakan kediaman Spies di Ubud untuk mendirikan studio lukisnya di sana.
Di Bali, Bonnet kemudian bekerja dekat dengan Walter Spies yang berusia sama dengan Bonnet namun tiba di Bali lebih dulu daripada Bonnet (tahun 1927). Spies menyediakan Bonnet muda dengan fasilitas melukis yang baik dan subjek lukisan alternatif untuk lukisan mereka. Spies dan Bonnet menjadi sangat terlibat di kehidupan sosial, mereka bekerja bersama bertahun-tahun dan sangat berpengaruh pada kehidupan seni di Bali. Mereka bersama-sama mendirikan persatuan seniman Bali Pita Maha.
Rudolf Bonnet dan Walter Spies mewakili hidup ekspatriat gay Bali yang berbeda karakter dan polaritas pada masanya. Spies dikenal sangat semarak dan cemerlang oleh masyarakat Bali, sedangkan Bonnet dikenal lebih pemikir dan serius dalam menjalankan rencana-rencananya.
Setelah pasukan Jepang mendarat tahun 1942 di Hindia-Belanda, Bonnet tidak segera dipenjara seperti orang-orang Eropa lainnya. Namun tak lama setelah petugas militer Jepang baru datang di Ubud, Bonnet ditangkap dan diasingkan ke Sulawesi tahun 1943. Bonnet kemudian menghabiskan hari-hari tawanannya di perkemahan tawanan di wilayah Bolong dan akhirnya di Makassar sampai tahun 1947.
Setelah selesainya Perang Dunia II dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pada masa-masa Revolusi Nasional Indonesia Bonnet datang kembali ke Ubud. Seperti orang-orang dalam komunitas Belanda di Bali yang lain, Bonnet memutuskan untuk tinggal dan meneruskan pekerjaan melukisnya.
Dalam kondisi ketidakstabilan politik pada masa itu, Bonnet mengadakan pameran lukisan paska-perang pertama di Bali, di bawah bantuan pemerintahan Negara Indonesia Timur saat itu. Saat paska-perang inilah pengaruh seni Bonnet di Bali mencapai puncaknya, dengan populernya Ubud sebagai pusat seni lukis dan adanya organisasi Pita Maha yang didirikannya bersama Walter Spies.
Tahun 1951 Bonnet mencoba mendirikan organisasi Golongan Pelukis Ubud yang serupa Pita Maha namun lebih berpusat pada para pelukis di daerah Ubud. Walaupun didukung seniman terkenal Ubud seperti I Gusti Nyoman Lempad dan Anak Agung Gede Sobrat, Golongan Pelukis Ubud tak dapat mencapai kesuksesan yang sama dengan Pita Maha.
"Dua orang gadis Bali" by R.Bonnet, Medium: Oil on canvas, Size: 129cm x 84cm, Year: 1955
*) Koleksi Bung Karno
"Dua Petani" by R.Bonnet, Medium: crayon on paper, Size: 71,5cm x 56cm, Year: 1957
*) Koleksi Bung Karno
"Joget" by R.Bonnet, Medium: water color and crayon on paper, Size: 139cm x 111cm
*) Koleksi Bung Karno
"Keluarga Italia" karya R.Bonnet, Media: tempera diatas kain, Ukuran: 150cm x 182cm
*) Koleksi Bung Karno
"Ni najas" by R.Bonnet, Medium: crayon on paper, Size: 58cm x 42cm, Year: 1950
*) Koleksi Bung Karno
"Penari-penari Bali sedang berhias" by R.Bonnet, Medium: water color on paper, Size: 105cm x 151cm, Year: 1954
*) Koleksi Bung Karno
"Seorang Pengarit" by R.Bonnet, Medium: crayon on paper, Size: 103cm x 71cm, Year: 1953
*) Koleksi Bung Karno
"Wanita Bali menabur bunga" by R.Bonnet, Medium: crayon on paper, Size: 124cm x 85cm, Year: 1952
*) Koleksi Bung Karno
"Francisco" by R. Bonnet, Size: 56cm X 35cm, Medium: Pastel on paper, Year: 1980
*) Auction: Masterpiece
"Ketoet Ray" by R. Bonnet, Size: 30cm x 18cm, Medium: Pastel on paper, Year: 1947
*) Auction: Masterpiece
"Male nude" by R.Bonnet, Medium: chalk on paper, Size: 58cm x 29.5 cm
*) Auction: Christie's Hongkong
"Ni Radji" by R.Bonnet, Size: 71cm x 50cm, Medium: Pastel on paper, Year: 1954
*) Auction: Masterpiece
"Nude" by R.Bonnet, Size: 40cm x 34cm, Medium: Pastel on paper
*) Auction: Masterpiece
"Tadrmina" by R.Bonnet, Size: 39cm x 27cm, Medium:Pastel on paper, Year: 1964
*) Auction: Masterpiece
"Elie Saralisa" by R.Bonnet, Size: 60cm x 50cm, Medium:Pastel on paper, Year: 1965
*) Auction: Masterpiece
"La Contessa Castel Nouro" by R.Bonnet, Size: 26cm x 19cm, Medium:Pastel on paper, Year: 1964
*) Auction: Masterpiece









-Christie's+Hongkong.jpg)
-Christie's+Hongkong.jpg)
,+90+x+120+cm+($260,000+-+$390,000)-Christie's+Hongkong.jpg)
-Christie's+Hongkong.jpg)
-Christie's+Hongkong.jpg)
-Christie's+Hongkong.jpg)







-Christe's+Hongkong.jpg)
-Masterpiece.jpg)
-Masterpiece.jpg)
-Masterpiece.jpg)






-Masterpiece.jpg)
-Masterpiece.jpg)
-Christie's+Hongkong.jpg)
-Masterpiece.jpg)
-Masterpiece.jpg)
-Masterpiece.jpg)










