Biografi dan informasi lukisan original karya pelukis maestro terkenal

JAVADESINDO Art Gallery menyajikan informasi seputar biografi dan karya-karya lukisan original dari para pelukis maestro terkenal yang pernah dilelang atau dikoleksi oleh museum seni international.

Biografi dan informasi lukisan original karya pelukis maestro terkenal

JAVADESINDO Art Gallery menyajikan informasi seputar biografi dan karya-karya lukisan original dari para pelukis maestro terkenal yang pernah dilelang atau dikoleksi oleh museum seni international.

Biografi dan informasi lukisan original karya pelukis maestro terkenal

JAVADESINDO Art Gallery menyajikan informasi seputar biografi dan karya-karya lukisan original dari para pelukis maestro terkenal yang pernah dilelang atau dikoleksi oleh museum seni international.

Biografi dan informasi lukisan original karya pelukis maestro terkenal

JAVADESINDO Art Gallery menyajikan informasi seputar biografi dan karya-karya lukisan original dari para pelukis maestro terkenal yang pernah dilelang atau dikoleksi oleh museum seni international.

Biografi dan informasi lukisan original karya pelukis maestro terkenal

JAVADESINDO Art Gallery menyajikan informasi seputar biografi dan karya-karya lukisan original dari para pelukis maestro terkenal yang pernah dilelang atau dikoleksi oleh museum seni international.

Biografi dan informasi lukisan original karya pelukis maestro terkenal

JAVADESINDO Art Gallery menyajikan informasi seputar biografi dan karya-karya lukisan original dari para pelukis maestro terkenal yang pernah dilelang atau dikoleksi oleh museum seni international.

Monday, February 20, 2017

>> LUKISAN DAN BIOGRAFI KARTIKA AFFANDI


Kartika Affandi lahir di Jakarta pada tanggal 27 November 1934. Dia adalah putri pelukis maestro terkenal Affandi dari istri pertamanya, Maryati. Perjalanan pendidikan nya dimulai dari " Taman Dewasa " di Taman Siswa Jakarta, kemudian belajar seni di Universitas Tagore Shantiniketan India. Dia juga belajar tentang patung di Politeknik School of Art London.

Pada tahun 1952, Saptohoedojo menikahinya dan mereka memiliki delapan anak.

Pada tahun 1957, ia bergabung dengan pameran lukisan bersama dengan pelukis wanita lainya di Yogyakarta untuk pertama kalinya.

Pada tahun 1980 dia pergi ke Wina, Austria untuk belajar di Academy of Fine Arts jurusan Teknik Pelestarian dan Pemulihan benda-benda seni, kemudian dia meneruskan belajar di ICCROM (International Center of Pelestarian dan Pemulihan Properti Budaya) di Roma Italia.

Saat ini, lukisan dan patung Kartika juga dipamerkan di Museum Affandi, di Galeri ketiga.

Kartika tidak pernah menerima instruksi formal seni. Sejak usia tujuh tahun, dia diajarkan oleh Affandi dalam tehnik melukis dengan jari dan pelototan cat dari tube langsung di atas kanvas. Setiap pencampuran warna dilakukan pada tangan dan pergelangan tangan.

Kartika tidak memiliki studio permanen; seperti Affandi, ia lebih memilih untuk melukis di luar di lingkungan desa tempat ia berinteraksi langsung dengan sekitar. Ini berbeda dengan kebanyakan pelukis kontemporer Indonesia, yang bekerja di studio mereka.

Kartika affandi adalah salah satu dari sekelompok kecil wanita yang dari pertengahan tahun 1980-an telah berhasil memamerkan karya nya secara teratur dan telah memperoleh pengakuan dari berbagai kalangan termasuk pengamat seni dan kurator. Bahkan dalam konteks ini, seni Kartika muncul sebagai sesuatu yang unik, mulai seperti halnya dari konvensional ke subversif.

Mengikuti jejak populis Affandi, Kartika juga memiliki sejarah panjang mengenai tema-tema lukisan nya seperti masyarakat pedesaan, nelayan, petani, buruh dan pengemis. Saat melukis, dia berinteraksi langsung dengan model nya, kemudian saling bertukar pengalaman, cerita dan kisah kehidupan, saat ia melukis.

Narasi lukisannya bila dilihat dari dekat larut dengan kedalaman yang kuat, kesan abstrak dalam plototan serta goresan cat minyak penuh semangat. Perjalanan karir Kartika Affandi:

- Pada tahun 1964, ia mengikuti pameran bersama di Museum Modern of Art, Rio De Janeiro, Brazil. - Di tahun 1967, membantu Affandi membuat lukisan dinding (Fresco) di East West Center University of Hawaii, USA.
- Di tahun 1977, ia menjadi kurator pada museum Affandi hingga sekarang,
- Tahun 1969, ia menggelar pameran tunggal pertama di Jakarta dan dilanjutkan setiap tahun berpameran dikota-kota besar di Indonesia.
- Tahun 1970 pameran bersama di Thailand dan negeri Belanda.
- Tahun 1971, berpameran di Samat Art Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia, Malay Art Gallery, Singapura.
- Tahun 1972 berpameran di Palazzo delle Esposizioni, Roma.
- Pada tahun 1973, Mengikuti pameran di Palais de Beaux-Arts Bruselles, Belgia dan Benrahter Orangerie, Dusseldorf, Jerman.
- Tahun 1974, ia berkeliling Indonesia bagian Timur dan Thailand bagian Utara untuk melukis.
- Tahun 1975, berpameran di FIAP Gallery, Paris, Lily Bone Gallery Nancy Festival, Perancis dan National Art Gallery, Algeria.
- Pada tahun 1978, berpameran di Credit Central Bank, Brussel, Belgia.
- Di tahun 1979, berpameran di Pinakota Art Gallery, Melbourne, Australia.
- Tahun 1980, berpameran di Gameente Massloujs Museum Netherland, Volkenkundig Museum Geradus, Gronigen dan Westpries Museum, Netherland.
- Tahun 1981, berpameran di Heimat Museum, Floritzdorf, Austria.
- Di tahun 1982, berpameran di K. Gamming Vienna International Center, Austria.
- Tahun 1983 berpameran di Mistelbach Gallery, Vienna Intenational Center.

Selama pendidikan di Austria tahun 1980-1983, ia melakukan kuliah kerja, di restorasi Fresco Akademi seni Rupa di Vienna, restorasi Fresco pada bangunan-bangunan bersejarah di Viena, Austria dan restorasi Fresco pada Gereja di Unter Marketlor Austria. Pada tahun 1984, ia berpameran di Roma, Italia dan pada bulan Desember 1984,  ia menikah lagi dengan Gerhard Koberl dari Austria.

Pendidikan :
- Taman Dewasa, Taman Siswa
- Tagore University Santiniketan, India, 1950
- Polytechnic School of Art, London, 1952
- Job Training untuk Management Gallery di Washington DC, USA, 1967
- Workshop Graphik Center Frans Maseriel di Kasterlee, Belgia, 1977
- Akademi Seni Rupa Jurusan Tehnik Pengawetan dan Restorasi Benda-benda Kesenian di Vienna, Austria, 1980 -1983
- ICCROM International Center of the Preservation and the Restoration of Cultural Property, Roma, Italia, 1984

Profesi :
Pelukis dan Kurator di Museum Affandi

Penghargaan :
- Beasiswa dari pemerintah Perancis untuk mengunjugi tempa-tempat kesenian di Paris (1968),
- Gold Medal dari Academica Italia Salsamoggiere (1980), Honorary Degree sebagai maestro di Pittura (1982)
- AUREA Gold Medal dari The International Parliament for Security and Peace, USA (1983)
- Beasiswa dari ICCROM untuk keliling Itali (1984),
- Master of Painter dari Youth of Asian Artist Workshop (1985)
- Outstanding Artist dari Mills College di Oakland California (1991)


Potret Diri karya Kartika Affandi, 2002


Anak-anak di depan masjid Meulaboh karya Kartika Affandi, 2006



Angsa karya Kartika Affandi, 2001



Bunga Kamboja karya Kartika Affandi, 1989



Fishing boat perahu eretan karya Kartika Affandi, 1993



Jembatan Amsterdam karya Kartika Affandi, 2000



Jembatan gantung Cisalak karya Kartika Affandi, 2000



Judi di tepi pantai Hongkong karya Kartika Affandi, 1999



Kincir angin Belanda karya Kartika Affandi, 2003



Lotus, 150cm x 200cm  karya Kartika Affandi, 2009



Pelabuhan Gresik karya Kartika Affandi, 2000



Penjual ayam karya Kartika Affandi, 1990



Pohon kering di Givency,France karya Kartika Affandi, 2009

Monday, February 13, 2017

>> LUKISAN DAN BIOGRAFI AGUS SUWAGE


Agus Suwage lahir pada tanggal 14 April 1959 di Purworejo, Jawa Tengah. Pada periode tahun 1979-1986, Agus mendapat pendidikan di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Bandung. Agus mulai melakukan pameran tunggal pertama kali pada tahun 1995 di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta. Kemudian di tahun berikutnya, Agus melakukan pameran tunggal di luar negeri untuk pertama kali di H Block Gallery QUT, di Brisbane, Australia. Karya Agus mulai mengikuti pameran bersama pada tahun 1997. Pada tahun tersebut karya Agus dipamerkan dalam lima pameran bersama, yang empat diantaranya diselenggarakan di luar negeri, yaitu India, Malaysia, Cuba, dan Jepang. Beberapa pameran tunggal Agus yang cukup menarik perhatian antara lain:

- CYCLE No.2, (2013)
- CYCLE No.3, (2013)
- The End Is Just Beginning Is The End, (2011) di The Tyler Rollins Fine Art, New York, Amerika.
- Pause/Re-Play, (2005) di ITB, Bandung.

Sampai tahun 2016, karya Agus tercatat telah dipamerkan di lebih dari 150 museum dan gallery dalam berbagai pameran di berbagai negara.

Enin Supriyanto (kurator pameran "Cycle No.3" di Jerman, 2013), melihat dalam beberapa hasil karya Agus Suwage, self-potrait tidak hanya menjadi sebuah subyek independent yang menjadi titik pusat, akan tetapi juga hadir berdampingan dengan elemen yang lain. Karya Agus dilihat merupakan kombinasi antara refleksi diri dan kontradiksi tentang "diri" itu sendiri. Dengan menggunakan kameranya, Agus merekam berbagai pose dan raut wajah miliknya, yang kemudian diteruskannya dalam gambar atau lukisan.

Dengan cara tersebut, Agus dianggap menerima fakta bahwa ketika dia menjadi subyek, di saat yang sama dia juga menjadi obyek. Hasil karyanya kemudian dianggap dapat menggambarkan bahwa "diri" dapat dipisah-pisah, menjadi pusat dari subyektifitas-diri, dan identitas mengenai diri akan selalu berubah ketika hadir diantara kehidupan sosial.
( sumber )

Agus Suwage, Bagaimana Menjelaskan Lukisan Kepada, 50 cm x 60 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, Berkah I,  145 cm x 150 cm, Oil on canvas, 2002



Agus Suwage, Blues untuk Allah, 135 cm x 135 cm, Acrylic on canvas, 2001



Agus Suwage, Holy Politician, 150 cm x 200 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, Kejutkan Istrimu, 50 cm x 60 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, Maka Lahirlah Angkatan 90-an, 50 cm x 60 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, nDobos, 200 cm x 115 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, Ojo Gumun, Ojo Dumeh, 220 cm x 170 cm, Acrylic on canvas, 2001



Agus Suwage, Panning, 50 cm x 60 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, Separuh Mimpi Separuh Kenyataan,  100 cm x 60 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, Super Simpanse, 150 cm x 200 cm, Oil on canvas, 2001



Agus Suwage, Tarian Api, 145 cm x 145 cm, Oil on canvas, 2001


Thursday, October 6, 2016

>> LUKISAN DAN BIOGRAFI NASHAR


Nashar (lahir di Pariaman, Sumatera Barat, 3 Oktober 1928 – meninggal di Jakarta, 13 April 1994 pada umur 65 tahun) adalah seorang pelukis ternama Indonesia. Nashar banyak belajar senirupa dari S. Sudjojono di Yogyakarta, seorang pelukis besar yang kemudian hari dinobatkan sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia.Dia juga menerima pelajaran dari perupa ekspresionis, Affandi, yang mengajarinya melukis dengan mengambil objek kehidupan sehari-hari, yang terus dipertahankan sepanjang hidupnya.

Ditambah dengan didikan yang keras dari seorang ayah dan dibesarkan dalam kelaparan dan penderitaan, telah menjadikannya legenda yang nyaris sempurna untuk seorang pelukis, sehingga dia-pun dianggap sebagai salah satu maestro senirupa Indonesia.

Bersama Affandi, Nashar diajar melukis cepat dengan merekam objek seketika. Affandi juga mengajarkan bagaimana melukis objek keseharian. Sejak itu, Nashar kemudian melukis apa saja, kapan saja dan di mana saja. Buku sketsa tak pernah lepas dari tangannya.

Belajar dari para maestro, Nashar kemudian mengembangkan pendekatannya sendiri. Walau percaya bahwa teori tetap perlu diajarkan di akademi, namun dalam melukis Nashar tak berteori. Bagi Nashar, teori baginya tak menjelaskan soal jiwa pelukisnya. Nashar mengembangkan kemungkinan-kemungkinan untuk menghasilkan karya yang imajinatif. Dengan mendekonstruksi teori seni lukis bahkan sejak dia mulai menggoresan kuas pertamanya.

Nashar pernah mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), namun kemudian dia mengundurkan diri dari lembaga itu karena perbedaan pandangan mengenai sistem pendidikan bagi siswa senirupa. Dia menolak sistem akademis yang dilaksanakan LPKJ. Dia seorang pengajar yang suka bergaul langsung dan menggambar bersama dengan siswa-siswanya, sehingga ia dianggap sebagai pengajar yang simpatik. Bagi Nashar, teori yang diajarkan di akademi senirupa tak begitu penting, meski teori boleh saja diajarkan pada siswa. Baginya aspek penjiwaan dalam diri seorang pelukis jauh lebih penting bagi seorang siswa yang mau mendalami senirupa.

Lukisan Nashar merupakan ungkapan perasaan pelukisnya pada kemurnian bentuk-bentuk yang bebas dari representasi alam atau objek-objek apapun. Nashar menghadirkan perasaan murni itu lewat irama garis, bentuk-bentuk, warna ataupun ruang. Dalam lukisannya, irama-irama itu memancarkan perasaannya yang mengalir sunyi. Akan tetapi di dalamya juga ada energi yang berombak, lewat getaran-getaran nuansa tekstur warna cerah yang berfungsi menghadirkan bentuk-bentuk abstrak itu.

Nashar pernah mengadakan pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 22 sampai 28 Februari 1973 dengan menampilkan empat puluh buah karya-karya lukisannya yang baru dan yang lama.

Sikapnya yang konsisten dalam seni lukis tercermin saat Nashar tak merasa terganggu bila lukisan-lukisan yang dipamerkan tak laku terjual. Dan Nashar punya alasan yang kuat untuk menerima resiko itu. Baru menjelang tahun 2000, lukisan Nashar mulai dilirik orang, dan balai lelang mulai melelangnya dengan antusias. Harga-harga lukisan Nashar pun jauh dari bayangan dan kehidupan Nashar yang dulu begitu akrab dengan penderitaa dan kemiskinan. Namun sayangnya, ketika nilai harga lukisannya itu sudah melambung tinggi, sang maestro sudah tidak ada lagi. Hanya meninggalkan jejak-jejak karyanya di tangan kolektor, atau pun di keluarga.


" Alam " karya Nashar, 134 cm x 94 cm, Acrylic on canvas, 1977


" Anak " karya Nashar, oil on canvas, 1964



" Babi " karya Nashar, 95 cm x 64 cm, Acrylic on canvas, 1972



" Drama " karya Nashar, 63cm x 87 cm, Acrylic on canvas, 1991



" Golek " karya Nashar, 95 cm x 65 cm, Acrylic on canvas, 1971



" Halaman Rumah " karya Nashar, Acrylic on canvas, 1970-1980



" Irama Gerak " karya Nashar, 93 cm x 64 cm, Acrylic on canvas, 1983



" Kepala Lembu " karya Nashar, Watercolor on paper , 56,5 cm x 42 cm,  1949



" Ketidakbulatan Merah dan Biru " karya Nashar, 137 cm x 88 cm, Acrylic on canvas, 1977



" Larut Malam " karya Nashar, 137 cm x 88 cm, Acrylic on canvas, 1977



" Menuju Matahari " karya Nashar, 66cm x 100 cm, Acrylic on canvas, 1987



" Model Bertiga " karya Nashar, 139 cm x 89 cm, Acrylic on canvas, 1975



" Perahu " karya Nashar,  46 cm x 43 cm, Acrylic on canvas, 1975



" Renungan Malam " karya Nashar, Acrylic on canvas



" Renungan Malam Mei 78 " karya Nashar, 136 cm x 88 cm, Acrylic on canvas, 1978



" Tiga Naga " karya Nashar, 138 cm x 89 cm, Acrylic on canvas, 1974



" Unknown (Nashar 3) " karya Nashar, Acrylic on canvas, 1974



" Unknown (Nashar 4) " karya Nashar, Acrylic on canvas, 1993



" Unknown " karya Nashar, Acrylic on canvas, 1990-1993

Friday, August 12, 2016

>> LUKISAN DAN BIOGRAFI I NYOMAN MASRIADI


I Nyoman Masriadi lahir di Gianyar, Bali Tahun 1973. Saat ini ia tinggal dan menetap di kota Jogjakarta. Di sanalah, ia kini tinggal bersama istrinya, Anna, dan dua anaknya, menikmati suasana yang nyaman dan damai. Sejuknya air kolam renang, pohon kamboja kuning berbunga rimbun, rerumputan hijau, serta Merajan (pura kecil) yang terdapat di halaman teras belakang, menghantarkan suasana Bali, asal pelukis kontemporer yang namanya kini tengah menjadi pembicaraan berbagai balai lelang internasional.

Seniman muda ini baru saja diprofilkan majalah Sotheby’s International Preview sebagai salah satu top master dan seniman kontemporer di dunia. Salah satu karyanya, Jago Kandang, masuk dalam rangking pertama Sotheby’s Top Ten Contemporary South East Asian Painting versi Asian Contemporary Art and Culture Magazine, 2008. Dalam dua tahun ini, harga karyanya terus menembus angka-angka baru. Karya terakhirnya, Sudah Biasa Ditelanjangi, terlelang dengan harga cukup fantastis di balai lelang Christie’s International Hongkong beberapa waktu lalu.

Pameran tunggal pertamanya baru akan diselenggarakan di Singapore Art Museum Agustus ini. ”Karena karyanya sudah tak ada (habis terjual), saya pinjam dari para kolektor,”aku Masriadi yang memang dikenal sangat konsisten dalam berkarya. Ia tak mudah kompromi soal standar, dan selalu berkembang dalam pemikiran, karena itu lukisannya boleh dibilang langka juga di pasaran.

Amir Sidharta, pengamat seni dan pemilik balai lelang Sidharta, mengatakan betapa pasar kini terus menanti karya-karya Masriadi yang dianggap mewakili semangat seni kontemporer melalui gayanya yang cerdas, jenaka dan figur-figurnya yang unik.

Lihat saja dalam Facial (2008). Ia menggambarkan pria setengah baya berkulit gelap yang mengenakan ikat kepala putih tengah meringis saat terapisnya yang seksi – hanya divisualkan melalui rok pendek yang memperlihatkan sebagian besar paha rampingnya di kepala sang Bapak– memencet jerawat hingga berdarah. Lalu, ia menempatkan balon cerita, seperti halnya pada komik, bertuliskan Oomnya terharu. Atau dalam Bingkisan (2006): bercerita tentang seorang wanita bertubuh tipis, hanya mengenakan busana dalam, tengah memeluk bingkisan yang besarnya sekitar empat atau lima kali lipat dari tubuhnya, dengan mata yang penuh pengharapan. Karyanya memang tak hanya berhenti hanya sampai di mata, mengundang respon secara kilat, membangkitkan imajinasi, namun juga menawarkan sebuah wacana.

Bila di atas kanvas karyanya begitu kaya wacana, bercerita—bahkan cenderung cerewet, tidak demikian halnya dengan sisi keseharian Masriadi. Para pemilik galeri dan pengamat seni yang pernah mengenalnya sepakat mengatakan bahwa ia memang sosok pendiam, tak banyak bicara, bahkan cenderung cuek. Istrinya, Anna, barangkali lebih tepat sebagai juru bicaranya. Tapi apakah benar demikian?

”Sebenarnya saya tak bermaksud tertutup, tapi memang harus nunggu panas dulu,” ucap Masriadi yang tampak riang dan penuh humor di malam itu. Memang untuk bisa berbincang akrab dengan Masriadi –seperti dikatakan Rudi Mantofani, rekan seprofesinya–lawan bicara harus satu gelombang dulu dengannya. Bila sudah demikian, ia memang terasa lebih terbuka. “Membangun kepercayaan dengan orang lain memang bukan hal yang gampang buat saya,”tukas Masriadi yang jarang berkumpul di berbagai pertemuan atau pameran seni yang ada. Dia lebih suka berada di rumah, berkarya dan main computer game .

Saat bicara game, ia memang tampak antusias. “Game itu menyenangkan. Ada tantangan yang harus kita selesaikan. Selesaikan dan kita menjadi yang terhebat,” ucap Masriadi yang banyak mendapatkan inspirasi latar (setting) dari permainan gamenya. “Sekarang aku lagi suka RF. Kalau sudah di depan computer, aku bisa tahan berjam-jam, bahkan lebih tahan dari lamanya kerja. Ha ha ha.. yang jelas, game itu ‘kan tempat melarikan diri.”

Soal lari-melarikan diri ini memang bukan yang pertama. “Saya senang hidup sendiri. Cita-cita saya dari kecil memang ingin nggak ikut orang tua, seperti tradisi Bali. Agak aneh memang cita-cita saya ini di waktu itu,”tukas Masriadi sambil menceritakan tentang kebiasaan di Bali bahwa anak lelaki yang sudah berkeluarga harus tetap tinggal di rumah yang sama dengan keluarga asalnya. Dia hanya tak bisa membayangkan bila ia yang bersaudara 5 orang masih tinggal di rumah yang sama seperti tradisi Bali. “Apalagi saya anak tengah. Paranoid juga. Ha ha ha..”

Dibesarkan dalam tradisi seni Bali yang khas, Masriadi boleh dibilang membelok dari gaya lukisan adat yang pernah membesarkannya sejak sepuluh tahun lalu. Meski sebenarnya, nuansa ke-Bali-an itu ternyata tak pernah hilang betul dari dirinya. Lihat saja bagaimana ia menggayakan rumahnya, membawa tradisi Bali, atau seperti bunga kamboja di dalam lukisannya. Namun, perbedaan gaya lukisan yang sangat menyolok ini sempat membuat Anna –yang saat itu tengah mengandung anak pertamanya dengan penuh kekhawatiran karena hidup mereka yang pas-pasan, tinggal di rumah kontrakan yang sempit—mempertanyakan, sekaligus mengkritik gaya lukisan suaminya yang dianggapnya tak pasaran itu. ”Kenapa kamu melukis orang gemuk-gemuk seperti itu, sementara orang lain membuat lukisan yang bagus-bagus?”

Dan seperti biasa, Masriadi tak pernah menjawab alasannya. Ia terus konsisten membuat karya-karya yang dipengaruhi oleh kontradiksi budaya dan ketidakkonsistenan yang diangkat dari persoalan sehari-hari. Yogyakarta dan situasi sekelilingnya—ingat bahasa plesetan dan gaya hidup yang nrimo, pasrah, apa adanya—menjadi istana imajinasi yang sempurna.

Ide lukisannya lahir dari berbagai masalah yang ditemuinya sehari-hari. “Harus ada masalah, baru aku kerja. Nggak ada urusan prosesi. Cuma duduk begini saja, aku sudah dapat ide,” ia menghembuskan rokok dengan nikmat, lalu menyeruput campuran vodka dan jus jeruk bikinan istrinya. “Dulu waktu saya kuliah, mungkin sedikit terpengaruh dengan gaya seniman-seniman besar dunia. Tapi terlalu banyak dijejali konsep malah jadi membelenggu kreativitas. Sampai akhirnya, saya tak mau terikat konsep lagi.”

Masriadi tak sempat menyelesaikan kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISI). “Saya tak mampu bikin 30 lukisan untuk tugas akhir… padahal saya sudah KKN…,” tukasnya. Melukis buat dia memang bukan sekadar mencoretkan ide di atas kanvas dengan begitu mudah. Ia benar-benar menyentuhkan pikiran dan jiwanya di atas kanvas. “Dulu saya takut bicara di depan umum, kalau dipaksa gemetaran, demam panggung. Karena itu daripada saya ditanya konsep karya saya, yang kadang tak mudah dijelaskan dengan kata-kata, mending saya membuat karya yang gampang-gampang saja.” Kelemahan ini memang dirasa sangat mengganggunya. Bahkan mungkin hingga kini.

Tapi keputusannya benar. Setelah keluar, ia justru lebih bebas berkreasi tanpa harus ditanya apa makna lukisan yang dibuatnya. Hasilnya, selama sepuluh tahun terakhir dia bergulat dan mematangkan gaya lukisannya sekarang. “Hidup itu tiap hari perjuangan. Tapi buat aku fun aja..,”katanya santai.

“Kalau orang bicara soal bisnis, ada untung rugi. Kalau buat aku, ini soal kerja seni. Kalau kerja seni, itu rasanya seperti dewa. Melakukan kesenangan setiap hari. Ini mungkin beda dengan orang lain. Apakah ini disebut perjuangan?,” Lalu ia tertawa. “Wong kita kerja senang kok, masak dibuat seperti orang susah.” Ia tertawa terbahak-bahak melihat istrinya tampak sewot mendengar jawabannya. Sorot matanya tak bisa dipungkiri, ia memang sangat mencintai istrinya.

Tak dipungkiri, peran Anna dalam kehidupan dan berkarya Masriadi memang luar biasa. Anna menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani sang suami: menemaninya melukis hingga dini hari, lalu mengantar ke warnet untuk main game saat mereka belum punya komputer dan menjemputnya di pagi hari, menemani bertemu para tamu, menjaga anak-anaknya, pada akhirnya adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesuksesan Masriadi. Kekompakan itulah yang akhirnya membuat karya Masriadi terus melaju bersama waktu.
(sumber)


Be Hunted by I Nyoman Masriadi, 150cm x 200 cm, Acrylic on canvas, 2015



Bendera Kaos Oblong by I Nyoman Masriadi, 275cm x 175cm, Acrylic on canvas, 2014



Bicara dengan pohon Duren by I Nyoman Masriadi, 200cm x 300 cm, Acrylic on canvas, 2016



Bicara pada Burung by I Nyoman Masriadi, 200cm x 300 cm, Acrylic on canvas, 2016



Great Daddy by I Nyoman Masriadi, 200cm x 300 cm, Acrylic on canvas, 2015



Invasion by the Clowns of Time by I Nyoman Masriadi, 145cm x 200cm, oil on canvas, 1999



King of Lies by I Nyoman Masriadi, 200cm x 200 cm, Acrylic on canvas, 2016



Masriadi is the Winner by Nyoman Masriadi, 145cm x 200 cm, acrylic on canvas, 1999



Old Master by I Nyoman Masriadi, 200cm x 300 cm, Acrylic on canvas, 2016



Past and Future by I Nyoman Masriadi, 200cm x 150 cm, Acrylic on canvas, 2015



Selfie By I Nyoman Masriadi, 150 x 200cm, Acrylic on canvas, 2014



Shangrila by I Nyoman Masriadi, 200cm x 150cm, Acrylic on canvas, 2015



Smile Target by I Nyoman Masriadi, 200cm x 150 cm, Acrylic on canvas, 2015



Unstoppable by I Nyoman Masriadi, 200cm x 300cm, Acrylic on canvas, 2015



Weight by I Nyoman Masriadi, 125cm x 225 cm, Acrylic on canvas, 2015